Di perusahaan rintisan non-tech atau yang level kecil-menengah terkadang pihak manajemen kebingungan mendefinisikan kerjaan digital marketer vs developer IT.
Keduanya sama-sama bekerja di dunia digital, ada CEO atau pimpinan perusahaan yang menganggap keduanya itu sama. Padahal skill set mereka berdua itu beda banget!
Kadang ada digital marketer yang bisa membuat website dengan bantuan CMS (Content Management System) seperti WordPress, Joomla, Drupal, dan yang lainnya.
Karena dianggap bisa membuat sebuah website, mindset yang terlintas di kepala top level manajemen berpikiran bahwa dia juga bisa melakukan pengembangan situs secara mandiri.
Atau pada saat website perusahaan mengalami down tidak bisa diakses, seorang digital marketer diperintahkan untuk menyelesaikan masalah pada server hosting.
Dua contoh di atas ini, mungkin sering juga ya temen-temen mengalami di kantornya masing-masing?
Bagikan tulisan ini ke atasan kamu agar dia paham perbedaan keduanya.
Daftar Isi
Pengertian Dasar Dua Peran Ini
Seorang digital marketer adalah profesional yang bertugas memasarkan produk atau layanan lewat saluran digital, seperti media sosial, Google, email, dan lain-lain.
Mereka fokus pada bagaimana menjangkau dan mempengaruhi audiens secara online untuk mencapai tujuan bisnis. Secara tim, digital marketer berada di bawah divisi marketing.
Sementara itu, developer IT sering disebut programmer adalah orang yang merancang, membangun, dan memelihara sistem atau aplikasi berbasis teknologi.
Mereka bekerja dengan bahasa pemrograman seperti JavaScript, Python, atau PHP untuk membangun solusi teknologi.
Secara garis besar pengertian dua peran ini saja sudah berbeda, kita lihat lebih jauh fokus utama dari seorang digital marketer vs developer IT.
Fokus Utama Pekerjaan
Digital marketer itu memikirkan cara menarik perhatian calon pelanggan, bagaimana mengubah pengunjung jadi pembeli.
Dari seorang pembeli bisa menjadi pelanggan yang loyal, serta mengoptimalkan pengalaman pengguna lewat konten dan iklan.
Di sisi lain, developer lebih seperti arsitek digital. Mereka bertugas membangung struktur teknis, logika sistem, dan bagaimana membuat fitur digital berjalan mulus dan efisien.
Mereka mungkin nggak terlalu mikirin audiens secara langsung, tapi lebih ke “gimana sistem ini bisa jalan dengan sempurna?”.
Keterampilan yang Diperlukan Digital Marketer vs Developer IT

Soft skill dan hard skill dari digital marketer dengan developer IT itu sangat berbeda.
Kita lihat yang pertama dari skill digital marketer secara basic kurang lebih seperti ini:
- Copywriting
- SEO & SEM
- Analisa data (Google Analytics, Facebook Insights)
- Strategi konten
- Pembuatan konten
- Komunikasi & presentasi
Dari skill set di atas maka tools yang dipakai juga berbeda misalnya saja di digital marketing, mereka biasa menggunakan tools berikut:
- Google Ads, Facebook Ads, TikTok Ads, LinkedIn Ads
- Canva, Adobe Creative Suite, CapCut
- Mailchimp, Pardot
- SEMrush, Ahrefs
- Google Analytics
Lalu sebagai seorang developer IT, kemampuan dasar yang dimiliki yaitu:
- Bahasa pemrograman (Java, Python, JavaScript)
- Struktur data & algoritma
- Database (MySQL, MongoDB)
- Versioning (Git)
- Debugging & testing
Tools yang biasa digunakan oleh seorang developer IT itu banyak dan beragam, diantara yang mereka gunakan sehari-hari yaitu:
- Visual Studio Code, IntelliJ
- GitHub, GitLab
- Postman
- Docker
- JIRA
Apa Rutinitas Digital Marketer vs Developer IT?
Seorang digital marketer biasanya melakukan rutinitas seperti melakukan pengecekan performa iklan, riset keyword, brainstrom ide konten dan meeting bareng dengan tim kreatif.
Mereka harus update dengan tren terbaru agar strategi marketing yang akan diterapkan tetap relevan. Lain cerita dengan rutinitas seorang developer IT.
Seorang developer IT biasanya memulai dengan requirement analysis, perencanaan (planning), code review, lanjut ke coding task, testing, lalu deploy.
Mereka sering bekerja dengan sprint dan backlog, dan sangat tergantung pada tim lain seperti QA atau UI/UX designer.
Kolaborasi Antara Digital Marketer & Developer IT
Meski berbeda, mereka sering banget bekerja bareng. Misalnya saat membangun website atau landing page baru.
Digital marketer mendesain isi dan layout, menentukan audiens, menyiapkan konten, mengatur strategi lauching, buat konten di web, sosmed, dan EDM (Electronic Direct Mail).
Developer IT yang membangun sistem backend dan frontend agar semua fitur di web berjalan lancar. Tanpa kerjasama dan kolaborasi satu sama lain, hasilnya bisa nggak maksimal.
Tapi kok ada yang berpikiran mereka itu sama ya? Kira-kira kenapa?
Kenapa Banyak Orang Mengira Mereka Sama?
Salah satu alasannya karena mereka kerja menggunakan istilah-istilah teknis yang serupa, dan berhubungan dengan internet.
Adanya konsep pengembangan aplikasi no-code, sehingga orang awam pun bisa membuat aplikasi tanpa harus mengerti bahasa pemrograman.
Selain itu, adanya script yang tinggal pasang seperti CMS (Content Management System) yang orang non-tech, bisa membuat website sederhana tanpa harus memiliki skill coding.
Di tahap awal, aplikasi no-code atau pengunaan CMS, mungkin bisa di handle oleh seorang digital marketer atau orang non-tech.
Namun, pada saat butuh sesuatu hal yang lebih kompleks atau pengembangan aplikasi, bisa jadi ranahnya itu sudah masuk ke developer IT karena dibutuhkan proses coding.
Nah di sini lah kesalahan orang awam, mereka melihat keduanya seperti sama.
Padahal seorang digital marketer lebih bekerja di ranah kreativitas dan psikologi. Mereka harus mengetahui apa faktor pemicu emosi orang saat melihat konten yang dibuat.
Sementara developer IT lebih berpikir logika dan stuktur. Karena satu kesalahan penempatan kode, bisa bikin aplikasi eror, jadi mereka dituntut untuk harus sangat detail dan teliti.
Perbedaan Jenjang Karier Digital Marketer vs Developer IT

Jenjang karir digital marketer dengan developer IT juga berbeda. Seorang digital marketer bisa naik ke jabatan seperti Head of Marketing, Growth Manager, atau bahkan CMO.
Nah developer IT sendiri memiliki jenjang karir yang berbeda, mereka bisa naik menjadi Lead Developer, CTO, atau Software Architect.
Kesimpulan
Jadi, meskipun digital marketer dan developer IT sama-sama “kerja di dunia digital”, peran, skill, cara berpikir, dan tools mereka sangat berbeda.
Keduanya penting, dan saling melengkapi dalam ekosistem digital modern. Jadi kalau atasan kamu masih bingung perbedaan keduanya, tinggal kamu bagikan aja artikel ini ke dia. hehe.
FAQ (Frequently Asked Question)
Apakah digital marketer harus bisa coding?
Tidak wajib, tapi punya pengetahuan dasar HTML/CSS bisa sangat membantu.
Apakah developer harus paham marketing?
Tidak harus, tapi dengan memahami marketing, ia akan membuat produk sesuai dengan kebutuhan pasar.
Mana yang lebih sulit, digital marketer atau developer?
Keduanya punya tantangan masing-masing. Tergantung minat, ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang kamu miliki.
Apakah gaji developer lebih tinggi dari digital marketer?
Tidak selalu. Tergantung level, industri, dan negara tempat bekerja. Kamu harus rajin-rajin mencari tahu industry benchmark terkait gaji.
Bisa nggak sih satu orang merangkap dua peran ini?
Bisa, tapi bakal berat banget. Biasanya terjadi di startup kecil. Namun untuk hasil yang maksimal, sebaiknya fokus pada satu peran saja.








