Biasanya kita mensetting UTM source dengan nama platform seperti “Facebook” atau “LinkedIn” kan?
Nah di sini, saya ingin berbagi pengalaman pada saat menghandle salah satu klien e-commerce.
E-commerce ini berasal dari luar negeri dan namanya juga cukup besar, bergerak di pasar B2B.
Ada ribuan campaign yang dijalankan oleh e-commerce ini di berbagai macam platform.
Hal yang menariknya adalah UTM source yang digital marketer biasa menggunakan nama platform.
Di campaign mereka nama platform diganti menjadi angka unik.
Misalnya seperti 100500 adalah kode untuk UTM Source yang berasal dari Facebook organik.
Angka unik lainnya adalah 500500 adalah kode unik untuk paid ads yang berasal dari Meta.
Dari data cluster ini, nanti kita akan jadi mudah menemukan channel digital yang perform berdasarkan kriteria lanjutannya.
Apa Itu UTM Tracking?
Kita pernah membahas tentang cara membuat kode UTM tracking pada postingan sebelumnya.
Secara singkat UTM tracking adalah sebuah kode tambahan yang dimasukan ke dalam sebuah URL.
Fungsinya adalah agar kita bisa mengetahui performa dari pemasaran digital yang kita lakukan.
Kita tidak akan membahas lebih lanjut terkait cara pembuatan kode UTM pada artikel ini.
Saya akan lebih fokus pada bagaimana cara mengelompokan atau clustering kode UTM source.
Kenapa Kode UTM Source Perlu Di Clustering?
Pada saat kita menjalankan campaign yang tidak terlalu banyak menggunakan platform.
Melakukan pengelompokan UTM source ini memakan usaha yang cukup banyak.
Namun apabila kita menjalankan banyak campaign di berbagai platform.
Proses pengelompokan UTM source sangat membantu kita melakukan analisa.
Bayangkan kalau kita menjalankan ribuan campaign diberbagai platform yang jumlahnya ratusan.
Lalu kita hanya mengandalkan nama dari masing-masing platform, seperti UTM source pada umumnya.
Kita akan kesulitan menganalisa, belum lagi standarisasi nama yang terkadang berbeda-beda.
Ada yang menggunakan nama singkatan, nama domain, nama brand yang mungkin membuat kode UTM source menjadi tidak konsisten.
Jadi satu platform saja bisa memiliki dua sampai tiga kode UTM source yang berbeda-beda.
Kebayangkan betapa repotnya nanti pada saat proses analisanya?
Lalu bagaimana cara melakukan clustering UTM source ini?
Cara Melakukan Pengelompokan Kode UTM Source
Sebelum kita melakukan proses pengelompokan kode UTM source ini.
Ada baiknya kamu mengetahui campaign apa saja yang akan dijalankan.
Platform apa saja yang dipakai untuk menjalankan campaign tersebut.
Kedua hal ini yang nantinya akan jadi pertimbangan pada saat pengelompokan kode UTM source.
Kamu bisa melakukan clustering dengan contoh sebagai berikut:
Digital:
Paid Ads (SEM, PPC, Social Media Ads)
Social Media Organik (Facebook, Instagram, Twitter, dll)
Website & SEO
Email Marketing
Content Marketing
Traditional:
Print Ads (koran, majalah)
Siaran Televisi & Radio
Event Marketing (pameran, seminar)
Public Relations (press release, media coverage)
Lainnya:
Affiliate Marketing
Influencer Marketing
Partnership & Sponsorship
Secara garis besar kita sudah punya gambaran clustering platform-nya seperti list di atas.
Selanjutnya adalah memberikan kode angka clustering-nya untuk setiap platform.
Sehingga hasilnya menjadi seperti ini, contoh kita berikan rentang 500 untuk setiap platform.
Digital:
Paid Ads (1000 - 5000)
SEM (1001- 1500)
GDN (1501- 2000)
Meta Ads (2001-2500)
Social Media Organik (5000-10000)
Twitter (5000 - 5500)
Facebook (5501- 6000)
LinkedIn (6001- 6500)
Youtube (6501 - 7000)
Ini kita buat sampel contoh di atas ya.
Kalau misalnya kamu punya kolaborasi dengan banyak KOL.
Kamu juga bisa membuat kode range khusus untuk KOL atau influencer marketing tersendiri.
Kesimpulan
Dengan melakukan proses clustering ini kita jadi lebih mudah melakukan tracking konversi.
Selain itu, kita juga lebih mudah mengetahui kategori mana yang paling perform.
Kita juga bisa menghindari penamaan yang bias, yang seperti di awal kita sudah singgung.
Satu platform akan hanya memiliki satu set kode UTM source.
Tidak akan ada lagi kasus di mana, satu platform bisa berbeda-beda naming UTM source-nya.
Semoga ilmu ini bermanfaat, mohon bantu share ya ke rekan-rekan digital marketer yang lain.
Barakallahufikum!








